Opini Mata Suara LSM

Berguru Dari Para Pemangkas Rambut.

Oleh : Nurhadi Taha – Penggiat LITERASI.

Mata Gorontalo (Opini) – Barber Shop itulah yang tertulis di beberapa tempat pangkas Rambut di setiap sudut – sudut kota maupun Tempat yang kita temui, tempatnya sederhana tapi semua orang mencarinya bahkan setiap warga rela untuk antrian beberapa jam hanya untuk menunggu gilirannya untuk di perindah gemulai rambutnya, apalagi era milennial saat ini gaya rambut tentu akan jadi gaya Hidup yang menjadi perhatian banyak orang.

Apalagi para barberShopnya, telah menjadi idola orang pasti akan menunggu walau berjam – Jam Lamanya. Dengan bayaran yang cukup lumayan mahalnya.

Fenomena memangkas Rambut tentu sebagai trend juga pada pendekatan perilaku tentu bisa kita jadikan sebagai riset dalam memetakan perilaku orang pada umumnya.

Setiap orang yang telah menyukai sesuatu trend, gaya, mode , tentu pada dasarnya tidak semudah apa yang kita lihat tentu mereka punya dasar dalam memilih suatu trend ataupun mode dalam gaya Rambut saat ini.

Pada umumnya orang memangkas Rambut ingin mereka terlihat lebih terang dan segar saat mereka setelah memangkas Rambutnya Selain itu memangkas Rambut juga tidak butuh modal yang begitu besar, cukup punya banyak skil soal memotong Rambut di mana Saja kita pasti akan di keren ini oleh orang banyak.

Pemerintah kita hari ini banyak berpikir soal kemiskinan serta banyak generasi kita yang pengangguran, semestinya mungkin bisa belajar dari maraknya babershop yang menjamur mungkin bisa mengatasi pengangguran dan kemiskinan di Gorontalo dengan menjamah mereka para Babershop yang kian menjamah di Gorontalo.

Alkisah di sebuah kota ada seorang anak muda yang kerjanya setiap malam ia baru memangkas Rambut setelah lama anak itu sudah tidak lagi berprofesi sebagai pemangkas Rambut ia sudah menjadi owner dari usaha Babershop ternyata anak ini ia Sarjana dari penghasilan Babershop, ia menyisihkan beberapa penghasilannya dari memangkas Rambut dan uang hasil gajinya untuk bayar SPP, anak muda Saat ini perlu belajar pada Babershop ia belajar mandiri tanpa harus meminta – minta dari pejabat satu ke pejabat lainnya untuk sekolahnya ia berusaha untuk mandiri dengan skil yang ada untuk menggapai cita – citanya, seolah saja tidak Cukup kata Eko Prasetyo , bahwa Sekolah kalau hanya sekedar simbolik mendapat gelar maka lebih baik tidak sekolah mentalitas kita yang perlu di bangun , bukan gelar yang berjejeran.

Belajar dari para BarberShopnya mereka ikhlas walau mode dan baunya rambut orang seperti apa mereka Tetap tersenyum bahkan mereka berhati – hati dalam memangkas Rambut kita, mereka mencari mode yang paling pas bagi pelanggan untuk mode rambutnya.

Belajar dari para Babershop mereka sering mempertajam gunting mereka untuk membuat indah rambut pelanggannya merekapun setajam tajamnya gunting mereka gunakan tak pernah mereka melukai kulit dari rambut sekalipun.

Mereka senantiasa mengikuti selera dari para pelanggannya mode dan gaya rambutnya . sehingga kitapun mau di bilang miring ke kiri dan ke kanan seorang pejabatpun mau mengikutinya, karena ingin terbaik dari hasil pangkas rambutnya nantinya.

Mari kita belajar dari para Babershop yang selalu mempertajam alat guntingnya untuk memperindah hasil karyanya, juga ikhlas dalam melakukannya dan di senangi oleh para pelanggannya karena skil mereka.

138 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya