Mata Gorut

Di Gorontalo Utara, Katanya Sekda Rasa Bupati

Mata Gorontalo (Gorontalo Utara) – Aktivitas Sekertaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara Ridwan Yasin belakangan ini, menuai kontroversi di kalangan para aktivis maupun masyarakat yang pihak yang peduli terhadap pembangunan daerah. Pasalnya,  menurut para aktivis aktivitas Sekda dewasa ini  dinilai telah melampaui kewenangannya.

Aktivis peduli pembangunan daerah (PPD) Jefri Polinggapo, S.AP menjelaskan bahwa tulisannya di media sosial Facebook yang dimuat pada tanggal 30 Januari 2019. Kata Jefri tulisannya tidak menyebutkan wilayah pemerintahan tertentu yang kemudian dikomentari oleh juru Bicara Iqra melalui salah satu media masa.

Jefri Polinggapo

 ” Pada tanggal 30 Januari 2019,  saya membuat tulisan sindiran kepada Pemerintahan yang tak paham akan tupoksi. Dalam tulisan itu saya akui saya tidak menyebut pemerintahan wilayah pada daerah tertentu. namun harus saya akui bahwa tulisan itu lahir dari kecemasan saya pribadi tentu berangkat dari sebuah Tulisan yang saya beri judul SEKDA rasa BUB/WABUB itu dikomentari oleh Jubir IQRA (Indra Thoriq) Roy Ahmad pada salah satu media Online mengklarifikasi tentang tulisan tersebut, bahwa menurut dia status/tulisan itu mengarah pada Pemerintahan Kabupaten Gorontalo Utara, kemudian diklarifikasi oleh sang Jubir IQRA dengan mencantumkan nama saya dan mengcapture serta mengarahkan narasi itu ke Sekda Gorontalo Utara. Harusnya sang Jubir mengklarifikasi dulu kepada saya sebagai pembuat status namun hal menurut saya tidak jadi masalah, karna tulisan itu dibenarkan oleh sang jubir, bahwa di mana SEKDA GORUT kerja itu METODE BOTTOM UP.” Jelas Jefri.

Jefri Menambahkan bahwa dirinya bingung dengan klarifikasi yang menyebutkan tupoksi atau cara kerja Sekda Gorut dengan metode bottom up, sehingga argumen dari jubir Iqra menurut Jefri sulit untuk dipahami.

” Cara ini kalau di pakai pada intenal dalam hal ini perangkat Daerah bisa dilakukan dan itu tupoksi seorang Sekda. Namun metode bottom up cara turun di masyarakat itu sulit buat saya pribadi memaahami tupoksi sekda yang ada pada undang undang 23 tahun 2014. Sehingga argumen sang jubir itu membenarkan kebobrokan birokrasi di Gorut, maksud tulisan saya kalau dipahami baik – baik harus diambil jadi semangat membangun bukan malah diklarifikasi kedunguuan seperti itu,”. Lanjut jefri.

Terakhir Jefri menyebutkan bahwa dirinya khawatir  jika metode bottom up ala Sekda Gorut seperti apa yang dikatakan oleh Jubir Roy Ahmad ini tetap mendominasi, maka Pemerintahan Gorut akan amburadul karena Panglima PNS nya hanya sibuk dan fokus pada pencitraan.

” Kepada pemerintahan yang ada di indonesia jikalau tidak paham akan tufoksi agar kiranya banyak belajar karna setiap jabatan punya wilayah dan kopetensi sendiri serta tugas yang khusus Jangan sampai Bottom up ini ada kepentingan politik seperti apa bahasa media. saya khawatir kalau kepentingan ini yang mendominasi maka yakin Gorut akan Amburadul karna sang panglima fokus pencitraan “. tutup jefri. (mg4)

258 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya