Mata Boalemo

Gegara Letupan Amarah, Bupati Boalemo Dilaporkan

Mata Gorontalo (Boalemo) – Meletupnya amarah Bupati Boalemo Darwis Moridu, ketika tak sabar menunggu Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dalam kegiatan Pembagian bantuan korban banjir beberapa waktu lalu ini pun berujung pada laporan polisi. Pasalnya, seorang pria yang ditunjuk-tunjuk bupati dalam video yang sempat viral itu, akhirnya mengadu ke Polda Gorontalo.

Masran Rauf, Kabag Protokoler Sekretariat Daerah Provinsi Gorontalo itu, terinformasi Senin (4/2) malam, mendatangi Polda Gorontalo, guna mengadukan perbuatan tak menyenangkan yang dialaminya.

Hal ini dibenarkan Masran, dimana dirinya sudah mengadukan Bupati Boalemo ke Polda Gorontalo. Dimana Masran merasa sangat dilecehkan oleh ulah sang bupati saat penyerahan bantuan korban banjir di Kecamatan Tilamuta.

Masran, ketika melapor ke SPKT Polda Gorontalo, Senin (4/1)

Seperti diketahui, Bupati Boalemo Darwis Moridu marah marah, karena penyerahan bantuan sempat molor akibat menunggu kedatangan Gubernur Gorontalo rusli Habibie yang masih berada pada kegiatan yang sama di desa Sari Tani kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo.

Datang ke Polda Gorontalo sekitar pukul 21.00 Wita. Masran bersama seorang saksi mata dan flash disk yang berisi video Bupati Boalemo yang memarahinya sebagai dasar bukti laporannya pun melaporkan perbuatan tidak menyenangkan yangbdilakukan oleh Bupati Darwis. Menurut Masran, harga dirinya begitu tercoreng karena dipermalukan didepan umum yang kala itu menyahuti perbuatan Darwis dengan riuh gemuruh tepuk tangan.

“Ini masalah harga diri saya. Saya ditunjuk-tunjuk, saya diteriaki di depan umum. Dan saya kalau ketemu orang mereka berkata; oh ini pak Masran itu yah yang dimarahi oleh pak bupati? Dan cerita itu sudah berkembang sampai di Jakarta, bahkan seluruh Indonesia. Semua orang mengenal diri saya karena saya yang dimarahi oleh bupati,” ungkap Masran sedih.

Masran menuturkan, langkahnya mengadu ke Polda Gorontalo bukan karena dibanjiri dukungan dari ribuan alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), tapi melainkan soal harga dirinya di mata keluarga. Masran mengaku bahwa isteri dan anak-anaknya kini sudah merasa terganggu karena ayahnya jadi bahan pembicaraan.

“Kasihan keluarga dan anak isteri saya melihat figur ayahnya yang dimarahi kemudian orang lain tepuk tangan,” kata Masran.

Selain itu, terkait masalah jabatannya. Masran mengaku merasa sangat malu dimarahi oleh bupati di depan para pejabat daerah Boalemo lainnya dan juga dihadapan masyarakat banyak.

“Ada pemikiran saya bahwa ini bisa terulang-ulang akan terjadi. Artinya, dengan jabatan saya, semudah-mudah itu dilecehkan dan dihinakan di depan umum. Harga diri saya dan jabatan saya yang dipertaruhkan di situ,” tegas Masran.

“Misalnya, saat itu pak bupati memaksakan saya untuk menyerahkan (bantuan) secara simbolis. Ini ‘kan harga diri pertaruhan jabatan saya. Seandainya kalau saya memberikan itu, berarti konsekuensi saya dengan gubernur. Saya pertaruhkan jabatan saya dengan masalah ini,” sambung mantan Stick Master STPDN Angkatan ke VIII itu.

Masran Rauf sejatinya mengaku beberapa hari ini sudah menahan diri. Namun karena sudah tak sanggup atas sindiran tersebut, akhirnya dirnya merasa harga dirinyabsebagai manusia sudah dinjak injak akibat insiden tersebut.

“Tapi, tadi saja dari Kwandang orang menyapa saya; oh..ini pak Masran yang dimarahi sama pak bupati itu yah? Saya terus terang kaget. Berarti personaliti saya yang diserang. Dan saya merasa diri saya kayak apa gitu? seperti tidak ada harga diri saya ini,” tutup Masran.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Wahyu Tri Cahyono SIK, yang coba dihubungi untuk mencari tahu proses hukum selanjutnya terkait aduan itu, belum memberikan keterangan. (hi/mg)

165 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya