Mata Budaya Suara LSM

Hari Patriotik 23 Januari Dan Spirit Generasi Milenial

“ Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, Kita Bangsa Indonesia yang berada disini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita adalah Merah Putih, Lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintah Belanda telah diambil alih oleh pemerintahan Nasional.”

Mata Gorontalo (Opini) – Tak lama lagi kita akan menyambut  Hari Patriotik 23 Januari 1942, yang sejatinya selalu diperingati setiap tahun oleh pemerintah dan seluruh masyarakat Provinsi Gorontalo. momentum Hari Patriotik 23 Januari ini juga merupakan peristiwa bersejarah yang menjadi puncak perjuangan masyarakat Gorontalo dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia di Gorontalo. Di bawah kepemimpinan Pahlawan Nasional Nani Wartabone, para pemuda dan seluruh masyarakat Gorontalo berhasil mengusir penjajah Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih di lapangan Taruna Remaja dan kantor Pos di Kota Gorontalo.

Keinginan yang kuat, revolusioner dan kobaran  semangat  pantang menyerah telah mengalir kesetiap nadi  generasi saat itu. Keinginan dan tujuan yang satu yakni mengusir dan merebut kemenangan dari para penjajah yang menjadi patri kemerdekaan walau harus direnggut nyawa.

Menariknya, seluruh masyarakat dan pemuda saat itu melepaskan perbedaan, memperkuat  tekad yang harus tercapai, yaitu mengusir penjajah dari bumi Hulondtalo. Bahkan, pemuda-pemudi  dengan hebatnya mewarnai momen tersebut  untuk mem perkuat  barisan. Rasa heroisme telah merasuk kuat ke sanubari dan menun jukkan bahwa pemuda memang merupakan senjata utama kekuatan pasukan dalam laga melawan penjajah.

Dimomen kemerdekaan pun, pemuda saat itu memberikan peran yang sangat signifikan atas lahirnya kebahagiaan rakyat  Gorontalo itu. Itulah spirit kepahlawanan, Spirit yang harus ada pada berbagai generasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Jiwa kepahlawanan harus terus menjadi pendorong di berbagai aspek kehidupan walaupun berbeda generasi. Nani Wartabone pernah mengutip apa yang disampaikan Soekarno bahwa dalam semangat yang berkobar saat itu harus diwarisi oleh generasi yang akan datang. Generasi itu tentunya kita semua yang ada saat ini (Milenial) dan yang akan datang.

Generasi dan Pahlawan Milenial 

Saat ini telah gencar terdengar istilah generasi milenial. Kata milenial sendiri berasal dari millennials yang ditemukan oleh dua pakar sejarah sekaligus penulis dari Amerika, William Strauss dan Neil Howe, pada beberapa bukunya. Nah, sejalan de ngan generasi milenial tersebut, dunia telah memasuki era di mana perubahan bergerak dengan cepat. Era yang ditandai dengan inovasi dan kreativitas mewarnai generasi saat ini. Internet of thing (IoT) dan proses di gitalisasi menjadi hal yang selalu melekat pada generasi milenial.

Tentu ini takdir yang harus diterima dan disikapi dengan benar dan tepat. Era milenial yang diwarnai dengan datangnya Revolusi Industri 4.0 telah memberi dampak terhadap pola pikir, cara kerja, tujuan kerja serta orientasi hidup kaum milenial di belahan dunia mana pun termasuk di Gorontalo pada berbagai sektor. Ini menjadi tantangan sendiri agar generasi milenial mampu menjaga spirit kepahlawanan, Spirit ke pahlawanan tentu harus selalu ada pada setiap generasi agar energi membangun bangsa tetap terjaga dan membara. Kemudian, diperlukan strategi dan cara agar generasi milenial memiliki spirit kepahlawanan yang kukuh dan menjadi modal untuk membangun daerah Adat bersindikan syara’, syara’ bersindikan kitabullah di segala sektor. 

Pada konteks ini perlu dirumuskan polanya agar dapat berjalan dengan baik dan generasi milenial bisa mengimplementasikannya. Maka perlu diambil langkah – langkah sebagai berikut, yaitu: Pertama, memperkuat  jiwa cinta Tanah Air. Pada konteks ini, cinta Tanah Air harus diperkuat sejak dini pada generasi milenial. Cinta Tanah Air juga dilakukan oleh negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Korea, China, Italia, Jerman. Cinta Tanah Air jika dibarengi dengan kecerdasan dan kerja keras tentu akan mampu menjadi pendorong untuk berkreasi dan berinovasi. Bahkan, cinta Tanah Air akan menjadi pagar kuat generasi ini dalam membangun bangsa. Kedua,memperkukuh pen didikan sejarah perjuangan bangsa. 

Di tahap inilah kemudahan ak ses internet bisa digunakan. Konten materi sejarah per juangan bangsa Indonesia yang menarik yang sesuai dengan era milenial yang serba unik ini, harus di sajikan baik di pen didikan for mal maupun non formal. Generasi milenial harus mengenali para pahlawan pe juang bangsa khususnya sejarah Gorontalo baik dizaman kerajaan maupun di zaman kemerdekaan, hal ini bertujuan agar generasi saat ini mewarisi jiwa dan spirit ke pahlawanan.

Semakin kuat pendidikan sejarah perjuangan bangsa, maka akan semakin kuat pula potensi lahir semangat kepahlawanan. Di sinilah potensi generasi bangsa ini akan lahir untuk kemajuan Indonesia secara keseluruhan dan Gorontalo khususnya.

Ketiga,memperkuat sikap kolaboratif. Pada tahap ini, penguat an kemauan kolaborasi harus ditanamkan pada generasi ini, Kolaborasi merupakan bentuk kebersamaan dan sinergi dalam bekerja sama. Kolabo rasi menjadi ciri kerja Revolusi Industri 4.0. Di sini kolaborasi harus diperkuat oleh setiap individu sehingga berefek pada lahirnya kreativitas generasi yang maju dan modern.

Keempat, membangun jiwa leadership dan komunikatif. Pada tahap ini, jiwa leadership dan komunikatif harus diperkuat. Generasi milenial akan menghadapi permasalahan yang sangat kompleks, tantangan yang sangat kuat, dan tuntutan pemecahan problem yang cepat. Maka dengan memperkuat jiwa kepemimpinan dan ketrampilan komunikasi yang baik akan menjadi modal dalam membangun bangsa. Era keterbukaan dan digital menjadi warna menarik bagi generasi milenial dalam menjalani kehidupannya.

Kelima, memperkuat  kemampuan adaptasi. Pada konteks ini, generasi milenial akan semakin kuat jika menghadapi lingkungan baru yang penuh dengan tantangan baru. Generasi yang berani, tidak mudah menyerah merupakan generasi yang diharapkan dalam upaya membangun bangsa ini. Seluruh langkah tersebut harus diperkuat oleh generasi milenial dalam upaya menghadapi kehidupan. 
Langkah  tersebut juga merupakan upaya memperkuat spirit kepahlawanan.

Spirit kepah lawanan harus tetap ada pada sanubari generasi bangsa ini kapan pun dan di mana pun. Era boleh ber ganti, generasi pun boleh berganti, namun spirit kepahlawanan harus tetap ada dan membara pada generasi kita. 

” Hulondtalo Lipu’u, Pilo Tutuwa Ola’uDilata Olipata’u, Detunggu Lomate Wa’u “

246 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya