Mata Tokoh

J.A. Katili, Uti Gorontalo Berjuluk Bapak Geologi Indonesia

Mata Gorontalo (Tokoh) – Lulus SMA, meninggalkan Gorontalo dia memilih Faculteit van Wis- en Natuurkunde Universiteit van Indonesie (FIPIA) di Bandung yang kemudian menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang boleh dibilang saat itu sangat tidak populer dibandingkan dengan fakultas lain yang menghasilkan gelar seperti insinyur, dokter, atau sarjana hukum. Memilih geologi bagi dia bukan tanpa alasan. Geologi, berperan sebagai wahana pengkajian dan pemanfaatan sumberdaya alam, yakni mineral, energi, air serta penerapan perekayasaan lingkungan hidup dan mitigasi bencana alam. “Geologi juga disebut sebagai pemersatu berbagai jenis ilmu pengetahuan, yakni untuk mempelajari bumi, jenis batuan, sifat kimia dan fisika,” tegasnya.

Mengawali kategori GeoProfile adalah langkah yang sempurna dengan mengulas profil John Ario Katili sebagai tokoh paling revolusioner dalam perkembangan ilmu geologi di Indonesia. Katili lahir di Gorontalo yang saat itu masih bagian dari Provinsi Sulawesi Utara sebelum menjadi provinsi terpisah seperti sekarang ini. Ia lahir di Kampung Bugis dari ayah bernama Abdullah Umar Katili dan ibu Tjimbau Lamato. Pada buku “Harta Bumi Indonesia” dengan sangat lucu diceritakan bagaimana Abdullah menimang-nimang bayi Katili sambil berpikir menimbang-nimbang nama yang akan diberikan kepada anak keenamnya itu. Abdullah teringat pada tokoh pendiri dan komandan Angkatan Laut Amerika, John Paul Jones. Tetapi ia malah segera terpikir John Weissmuller, juara renang gaya bebas pemegang medali emas Olimpiade Paris (1924) dan Amsterdam (1928) yang kemudian terkenal sebagai aktor Hollywood, terutama sebagai Tarzan. Dari perenang John Weissmuller-lah nama John dijadikan dasar penamaan puteranya, sebagai tradisi lelaki Gorontalo yang selalu dibuai ombak Teluk Tomini. Nama tengah Ario diusulkan oleh sepupu Abdullah, Mitu, agar gagah dan kelak menjadi orang besar, katanya.

J.A. Katili bersekolah di Rooms Christelijke School Poso, Sulawesi Tengah dari kelas 0 sampai kelas 4. Ia kemudian melanjutkan hingga lulus sekolah dasar di HIS Gorontalo pada 1943 saat Jepang menguasai Indonesia. Tingkat SMP-nya dilalui di Chugakko di Tomohon, Sulawesi Utara yang lebih banyak pelajaran militer karena guru-gurunya adalah tentara Jepang. Setamat di Chugakko, J.A. Katili melanjutkan ke MULO C di Manado dan lulus pada 14 Juni 1947 dengan nilai-nilai yang memuaskan yang menjadi dasar untuk diterima di tingkat lebih tinggi di AMS-B Makassar.

Masuknya J.A. Katili sebagai mahasiswa Jurusan Geologi di ITB (saat itu masih bernama FIPIA Universitas Indonesia di Bandung) diawali dengan penolakan beasiswanya. Namun setelah menghubungi Kepala Dinas Meteorologi dan Geofisika yang orang Belanda, ia segera dirujuk ke Professor Th.H.F. Klompe, Lektor Kepala Bagian Geologi melalui telepon:

Theo…ik heb hier een uitstekend student voor jou.” (Theo…saya di sini bertemu dengan bakal mahasiswa cerdas untukmu

(Kira-kira apa yang dilakukan Katili kepada orang Belanda itu, hingga ia menyebutnya sebagai mahasiswa cerdas?).

Jadilah J.A. Katili menjadi seorang dari beberapa mahasiswa geologi Indonesia pertama yang dididik oleh Prof. Klompe yang keras, bahkan oleh mahasiswa-mahasiswanya dijuluki Si Jagal. J.A. Katili lulus sarjana FIPIA pada Jumat 9 November 1956. Setahun sebelumnya ia menikah dengan Ileana Syarifa Uno, dan dikaruniai Amanda Ruthiana Nanurani yang lahir pada 1957 serta Werner Abdul Rais yang lahir dua tahun kemudian, 1959. Dalam waktu itu, ia memperoleh beasiswa untuk pasca sarjana yang didapatnya dari Rotary Foundation ke Universitas Inssbruck, Austria. Sebagai syarat untuk mendapat beasiswa itu, J.A. Katili memberi ceramah ilmiah dengan judul “Terjadinya Dataran Tinggi Bandung dalam kaitannya dengan Letusan Gunung Tangkubanparahu.” Ketika di Austria, J.A. Katili mendapat kabar bahwa Pemerintah Indonesia menasionalisasi seluruh instansi Belanda di Indonesia. Prof. Klompe yang tadinya diharapkan jadi pembimbing doktornya, telah pindah ke Bangkok ketika J.A. Katili kembali ke Indonesia pada 1958 dengan membawa bahan disertasinya. Beruntunglah ITB saat itu mendapat bantuan dari USAID Amerika Serikat dengan program Kentucky Contract Team, dan J.A. Katili pun mendapat bimbingan doktornya dari Robert W. Decker dan Ch. S. Bacon. Tahun 1960 jadilah J.A. Katili lulus cum laude pada usia 30 tahun dan merupakan doktor lulusan ITB yang pertama. Setahun setelah gelar doktornya, ia menyandang predikat professor.

Pengabdian beliau dalam pengembangan Geologi dilanjutkan sebagai dosen Geologi di ITB dan menjabat Dekan Departemen Teknologi Mineral dari 1961 hingga 1965, dekan pertama bangsa Indonesia, dalam rentang waktu yang sama Katili juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional LIPI (1962-1971). Selepas itu, antara 1969-1974 Katili menjabat sebagai Deputi Ketua LIPI dan penasehat Bakosurtanal (1970) hingga sebagai Dirjen Pertambangan Umum (1973- 1984). Kemudian antara 1984-1989 beliau menjabat sebagai Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, dan Penasehat Ahli Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun 1989. Pada tahun 1992 beliau memasuki dunia politik dan terpilih sebagai Wakil Ketua MPR sampai tahun 1997. Dan terakhir beliau diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan dan Mongolia pada rentang waktu 1999 sampai 2003.

Semasa hidupnya beliau tidak henti-hentinya berbagi ilmu, Berdasarkan catatan pada buku biografi Katili yang berjudul “Harta Bumi Indonesia” ada 258 tulisan lahir dalam rentang waktu antara tahun 1951-2005. Tulisan beliau tersebar di berbagai jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Sebelas bukunya menjadi rujukan yang begitu bernilai bagi perkembangan Geologi Indonesia. Keasyikannya dalam tulis menulis bahkan bukan hanya di bidang geologi saja. Beliau tidak lupa menyumbangkan pemikirannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dengan menjawab berbagai isu kebumian, potensi bencana, dan potensi kekayaan alam Indonesia yang kemudian diterbitkan di koran maupun majalah populer. Sebelas bukunya juga menjadi rujukan ilmu geologi di kampus-kampus dan para peneliti. Peraih gelar doktor dan profesor pertama di bidang geologi ini dengan berbagai karya besarnya di bidang geologi telah mengantarkannya menjadi Bapak Geologi Indonesia. Tak heran kalau semua ahli geologi Indonesia mengenal nama Katili. Beliau ternyata tidak hanya piawai dalam menganalisis kejadian bumi, tapi juga tajam saat menganalisis pertandingan sepak bola. yaitu ketika sedang marak-maraknya Piala Dunia Perancis 1998, Beliau mengulas analisis sepak bola yang dimuat di Tabloid Bola. Tentunya analisis itu tidak ada hubungannya dengan geologi, kecuali mungkin bahwa bulatnya bola seperti bulatnya bumi.

Seorang ahli gunung api

Pada tahun 1962 Gunung Colo di Pulau Una-Una yang berlokasi di tengah Teluk Tomini meningkat aktivitasnya. Merasa memiliki ikatan bathin dengan tanah leluhurnya yang pernah dibuai ombak Teluk Tomini, Katili menyempatkan diri mengunjungi gunung api itu dan melakukan serangkai-an penelitian. Beliau menyimpulkan bahwa Colo belum waktunya meletus.

Perhatian Katili terhadap gunung api sangat besar. Suatu ketika beliau mengatakan bahwa gunung api yang sudah tidur lama dan tipe B jangan diabaikan karena sewaktu-waktu dapat giat kembali.

Ucapannya itu seolah-olah beresonansi hingga ke dapur magma dan, luar biasa, pada 23 Juli 1983 Pulau Una-Una tiba-tiba digoncang gempa bumi selama beberapa hari. Radiogram yang dikirim oleh Camat Una-Una ke Direktorat Vulkanologi yang melaporkan bahwa gempa bumi yang menggoyang Una-Una mulai membangunkan Gunung Colo yang sudah tidur 83 tahun, bau belerang sudah mulai menyebar ke seluruh pulau. Mengetahui hal tersebut, Katili yang pada saat itu menjabat sebagai Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral menginstruksikan kepada Direktur Vulkanologi agar mengungsikan seluruh penduduk Pulau Una-Una. Benar saja, pengungsi terakhir baru saja mendarat di daratan Sulawesi, Ampana, Gunung Colo meletus dahsyat. Seluruh pulau hangus dilanda awan panas. Dengan rendah hati Katili mengatakan bahwa prediksi letusan Gunung Colo kebetulan adanya.

Lima tahun kemudian, pada 1988 Indonesia melahirkan satu gunung api baru. Di sebuah dusun terpencil di Ruteng, Flores berdiri dua bukit andesit sisa gunung api purba. Bukit itu adalah Bukit Ranakah dan Bukit Mandosawu. Dari lembah di antara kedua bukit itu muncul rekahan yang kemudian berkembang menjadi titik letusan dan melahirkan gunung api yang ke 129 Indonesia.

Ketika harus dipublikasikan, gunung api baru itu belum memiliki nama. Penduduk setempat menamakannya Gunung Namparnos yang artinya Gunung Batu Terbakar, karena mereka melihat lava yang membara keluar dari perut Flores. Tetapi Katili berpikir lain, nama itu harus ada kaitannya dengan geologi, sehingga beliau menamakannya Gunung Anak Ranakah karena secara morfologi gunung baru itu menempel di badan Bukit Ranakah.

Pengalaman dan baktinya J.A. Katili untuk geologi Indonesia tidak diragukan lagi dan terlalu panjang jika dituliskan di artikel ini. Saat menjabat sebagai Duta Besar berkuasa penuh untuk beberapa negara bekas Uni Sovyet, Katili pun menyempatkan untuk mempelajari dan memahami geologi setempat. Semangatnya untuk Geologi Indonesia akan menjadi motivasi bagi para ahli geologi penerusnya, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Suatu ketika

Wapres punya cerita. Saat John jadi duta besar di Moskwa, Kalla datang sebagai Menteri Perdagangan. Ketika semobil, ia berharap John berkomentar tentang perdagangan, nyatanya dia terus berkisah tentang ilmu kebumian. “Sebetulnya saya rada bosan,” kata Wapres. Tetapi, itulah John yang ia anggap sebagai orang Bugis meski kelahiran Gorontalo. Selesai sebagai dubes, John menghadap Kalla dan memberinya buku. Kalla mengira itu buku tentang Rusia, ternyata masih tentang geologi. Wapres menyebut JA Katili sebagai sosok pencerahan karena ia—yang bersama teman seangkatannya memilih jurusan geologi FIPIA UI tahun 1950—figur yang punya visi bahwa negeri seperti Indonesia yang terentang sepanjang 5.000 km, rumah bagi 129 gunung api, dan tempat bertemunya tiga lempeng tektonik utama dunia jelas membutuhkan ahli geologi. Bersama dengan vulkanologi, geofisika dan meteorologi, geologi amat penting tak saja untuk hidup lebih arif di tengah alam yang amat dinamik, tetapi juga untuk bisa menambangnya secara bijak. Kalau kemudian John bisa menyusuri karier di bidang yang amat ditekuninya, itu tak lepas dari keahlian khusus yang dimilikinya sebagai profesional. Keahlian khusus ini memang dia pupuk dengan tekun melalui riset dan sosialisasi sains. Misalnya, John menulis Ihtisar 3.000.000.000 Tahun Sejarah Bumi yang menjadi salah satu bacaan favorit siswa SMP pada paruh dekade 1950-an. Kalau masyarakat Indonesia mau menyusuri kembali buku- buku—ada 11—yang ditulis John, banyak inspirasi yang bisa digali. Misalnya tentang bagaimana sumber alam bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan ketahanan nasional seperti yang dia tulis.

Bersama Istri. Suatu ketika tepatnya tahun 1963 J.A. Katili yang saat itu menjabat sebagai Pembantu Rektor ITB dan juga Direktur Lembaga Geologi dan pertambangan Nasional, LIPI, mendapat kesempatan untuk mengadakan perjalanan ilmiah ke beberapa universitas unggulan di Amerika Serikat. Masa itu, umumnya tidak lazim seorang isteri mendampingi suami bertugas. Amanda Katili menuturkan saat itu ayahnya berupaya keras mengajak ibu karena sejak awal menikah ibu saya sudah mewanti-wanti untuk terus menemaninya: “aku mendukung tugas-tugas ilmiahmu dengan sepenuh hati, silahkan melakukan perjalanan ke manapun di dunia ini, tetapi kalau ke Amerika Serikat aku harus ikut.” Tidak terbayang wajah ayah ketika dia mengatakan pada Kentucky Contract Team penggagas perjalanan tersebut: ”saya tidak pergi kalau tidak bersama isteri.”Akhirnya Iliana Katili Uno dan John Ario Katili berangkat ke Amerika Serikat diiringi keheranan bule-bule yang berkata: “He must love his wife very much.”

—————–====(0)====——————

Pada rabu(18/6/08) sekitar pukul 18.00 WIB Katili dilarikan ke RSPI dan sempat dirawat di ruang ICU. Akibat pembuluh darah yang pecah, akhirnya pada usia 79 tahun beliau tutup usia tepatnya pada tanggal 19 Juni 2008 di Jakarta. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka perumahan Bintaro Sektor III, Jalan Pinguin V CH 6 Jakarta Selatan. Dimakamkan Jumat (20/6). Katili meninggalkan seorang istri, Ny Ileana Syarifa Uno, dan dua anak, Amanda Katili dan Werner Katili. Lima tahun sudah Katili meninggalkan kita, tetapi karyanya yang luar biasa di bidang geologi telah menjadi warisan kegeologian. Banyak geolog angkatan lebih muda terinspirasi oleh warisan karya-karya Katili. Tulisannya selalu memperkenalkan geologi, terutama tektonik dan gunung api, sebagai keahliannya. Tulisan ilmiah populernya enak dibaca. Hal itu membawa geologi pada tataran ilmu pengetahuan yang mudah dicerna oleh masyarakat luas – Budi Brahmantyo.

For a fighting man, there is no journey's end - J.A. Katili

Demikian ulasan mengenai seorang J.A. Katili, saya mengutip dari tim redaksi tokoh Indonesia sebagai penutup tulisan ini

John beringsut pada usia senja, tetapi inspirasi yang ia torehkan bagi bangsa Indonesia justru semakin muda dan segar. Dengan tsunami, gempa, dan letusan gunung membuat ilmu kebumian yang ia geluti setengah abad silam justru makin terasakan makna dan kegunaannya

Tekadnya untuk merantau meninggalkan daerah kelahirannya Gorontalo ke Bandung adalah untuk menuntut ilmu, karenanya dia bertekad akan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar. Benar saja, karena kepandaiannya, dia menjadi murid kesayangan Prof Dr Theodorus Henricus Franciscus Klompe, pakar geologi tapi dianggap ‘killer’. Bahkan, saking ‘cintanya’ kepada dia, Klompe sempat ‘mewasiatkan’ 7 peti buku-buku bacaannya kepada Katili. Dari perkenalan dengan Klompe itulah ‘kepakaran’ seorang Katili dimulai. Dia menamatkan studinya pada tanggal 9 November 1956, tidak lama dia pun langsung melanjutkan studi ke Inssbruck Austria selama setahun atas biaya Rotary Foundation yang merupakan usulan Klompe.

Singkat cerita pada tahun 1959, diusia yang relatif muda yakni 30 tahun, dia merampungkan studi doktoralnya di ITB Bandung. Katili dinyatakan sebagai doktor geologi pertama ITB dengan disertasi berjudul ‘Investigators on the Lassi Granite Mass Central Sumatera’ dan mendapat predikat cumlaude. Setahun kemudian, putra ke-8 pasangan Abdullah Umar Katili dan Tjimbau Lamato ini langsung ‘diresmikan’ menjadi guru besar ITB dengan menambah satu gelar di depan namanya, ‘profesor’ pada tahun 1961.

Prof. Dr. John Ario Katili adalah satu di antara tiga ilmuwan, bersama Prof. Roosseno dan Prof. Baiquni menerima Bintang Mahaputra pada tahun 1984. Ini menandakan besarnya perhatian dan minat pemerintah terhadap perkembangan ilmu di Indonesia. Karier John Ario Katili sebagai geolog dimulai begitu ia menamatkan Fakultas Ilmu Pasti & Alam UI (kini Institut Teknologi Bandung, ITB) di Bandung pada tahun 1956. Memulai sebagai Ketua Bagian Geologi pada almamaternya, John sempat menjadi Pembantu Rektor pada ITB tahun 1960. Tahun berikutnya ia ditarik ke Departemen Pertambangan, sampai menjabat Dirjen Pertambangan Umum (1973-1984), dan terakhir, Dirjen Geologi & Sumber Daya Mineral (1984-1989).

John Ario Katili mengemukakan bahwa dalam Pelita IV, sumber daya mineral nonmigas mendapat perhatian utama pemerintah dalam upaya melepaskan diri dari ketergantungan pada ekspor migas. Belajar dari pengalaman meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat pada tanggal 5 April 1982 silam, Katili mengingatkan bahwa banyak kota di Indonesia yang ”rawan gempa”. Ia menyebut Banda Aceh, Padang, Bukittinggi, sejumlah kota di pantai barat Jawa, kemudian Palu, Ambon, Sorong, dan Biak. Geolog yang pernah mendalami ilmunya di Universita Innsbruck, Austria ini menyarankan sebaiknya masyarakat setempat tidak mendirikan bangunan bertingkat.

Di samping menjadi anggota berbagai organisasi profesional di luar negeri, J. A. Katili pernah ditunjuk NASA sebagai penyelidik utama satelit Erts-A di Indonesia. Ia telah menulis sekitar 50 makalah ilmiah, yang dipublikasikan di berbagai negeri. Bukunya yang telah terbit antara lain 3.000 Juta Tahun Sejarah Bumi dan Sumber Alam untuk Kesejahteraan dan Ketahanan Nasional.

Pria yang beristrikan, Ileana Syarifah Uno, yang mempunyai dua orang anak, masing – masing Amanda Katili dan Werner Katili ini hobby dengan olahraga golf. John Ario Katili pernah menjadi anggota DPR periode 1992-1997 dan menjabat Wakil Ketua DPR/MPR RI. Guru Besar Institut Teknologi Bandung ini telah menulis sedikitnya 11 buku dan 250 karya tulis. Kepakarannya di bidang geologi sangat dihormati di dunia internasional. Dia menjadi Ketua South East Asia Union of Geological Societies (Geosea Union) dan anggota The National Geographyc Society. Pernah menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Federasi Rusia, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Mongolia (1999-2003).

Atas berbagai pengabdiannya, dia mendapat anugerah Bintang Mahaputra, Medali Kehormatan Commandeur de L’ Ordre National du Merite dari pemerintah Perancis. Sejumlah penghargaan juga diperoleh dari pemerintah Kerajaan Belanda, Swedia dan Rusia.

Kini namanya di kenang harum di bumi Indonesia. Prof. Dr. John Ario Katili meninggal dunia pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008, sekitar pukul 17.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta.[1] Doktor pertama di bidang geologi dari ITB putra daerah Gorontalo ini meninggal akibat pembuluh darah di bagian kakinya pecah. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka perumahan Bintaro Sektor III, Jalan Pinguin V CH 6 Jakarta Selatan. Dimakamkan pada hari Jumat, tanggal 20 Juni 2008.

Melihat riwayat hidupnya, wajar kalau sosok yang akrab dipanggil John oleh sebayanya, atau Pak Katili oleh generasi cucu murid seperti Rektor ITB ini, punya banyak teman dari berbagai lingkungan. John Ario Katili adalah geolog dan ahli ilmu kebumian top, pendidik, birokrat, politisi, serta diplomat. Akan tetapi, dari semua itu, ciri yang paling menonjol dari John adalah sebagai ilmuwan. Tentang hal ini, Wapres punya cerita. Saat John jadi duta besar di Moskwa, Jusuf Kalla datang sebagai Menteri Perdagangan. Ketika semobil, ia berharap John berkomentar tentang perdagangan, nyatanya dia terus berkisah tentang ilmu kebumian.

Kalau kemudian John bisa menyusuri karier di bidang yang amat ditekuninya, itu tak lepas dari keahlian khusus yang dimilikinya sebagai profesional. Keahlian khusus ini memang dia pupuk dengan tekun melalui riset dan sosialisasi sains. Misalnya, John menulis Ihtisar 3.000.000.000 Tahun Sejarah Bumi yang menjadi salah satu bacaan favorit siswa SMP pada paruh dekade 1950-an. Kalau masyarakat Indonesia mau menyusuri kembali buku- buku yang ditulis John, banyak inspirasi yang bisa digali. Misalnya tentang bagaimana sumber alam bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan ketahanan nasional seperti yang dia tuliskan dalam karya ilmiahnya. (Wikipedia)

249 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya