Opini Mata

Kolaborasi (Jenis) Emosi Dan Ketegasan Yang (Tak Perlu) Diumbar

Oleh : Jeffry As. Rumampuk

Mata Gorontalo (Opini Mata) –  Akhir-akhir ini publik seolah digiring dalam satu pembentukan opini bahwa pemimpin yang marah-marah itu sangat bagus dan bahkan dibiarkan menjadi populer. kondisi yang mungkin tidak sehat karena ini bisa membawa publik menilai bahwa amarah adalah cara yang dapat menghalalkan segala cara demi tercapainya kepentingan yang ditujukan, entahlah…!!!

Dalam perspektif kehidupan, Emosi adalah suatu perasaan yang pasti dimiliki setiap manusia. Semua orang pasti mengenal istilah yang satu ini, yang digunakan untuk menggambarkan apa yang dirasakan oleh seseorang ketika ada perubahan yang terjadi dalam kehidupannya sehari  – hari.  Dalam kehidupan sehari – hari, pada umumnya kita akan melibatkan emosi ketika berbicara, memilih kata – kata, mengambil keputusan, memilih aktivitas berdasarkan apa yang kita rasakan saat itu dan  Emosi memang memegang peranan yang besar dalam kehidupan kita.

Merujuk pada kejadian minggu ini, sebuah pegelaran yang sebenarnya (juga) berkaitan dengan kepentingan ini dapat dikategorikan menghalalkan segala cara. Dimana kegiatan milik Kaisar itu harus mendapatkan arti negatif karena efesiensi waktu, schedule dan keterlambatan serta (mungkin) pesan – pesan tersirat pada momen akbar dalam beberapa bulan lagi.

Sementara itu, emosi yang tak tertahankan karena tak rela melihat rakyatnya disiksa oleh waktu demi sejumlah bantuan pun harus membuat sang raja meletupkan emosinya. Bagaimana tidak, molornya agenda pembagian sembako harus tertunda selama 7 (Tujuh) jam itu sepertinya tak harus terjadi jika ada keputusan untuk sesegera mungkin dibagikan mengingat rakyat yang notabene didominasi nelayan dan petani tak menghabiskan waktunya demi sejumlah bantuan itu. Negative memang terlihat walau sebenarnya baik karena kepentingan rakyat adalah (memang) mutlak untuk diperjuangkan.

Hasilnya, yang dipertontonkan adalah ketidakdewasaan dalam mengontrol emosi dan permohonan maaf atas rasa yang salah dalam bentuk sindiran publik. memohon maaf yang dirangkaikan dengan pernyataan penilaian atas emosi milik sang raja. Sehingga publik makin dibuat bingung dengan kontras yang sengaja dinaik turunkan cahayanya.

Dalam menjalankan kerja-kerja kepemimpinan, Ketegasan (memang) sangat diperlukan . Tetapi ketegasan tak harus selalu dilandasi oleh emosional apalagi jika yang ditunjukan sangat berlebihan dan terjadi didepan ratusan masyarakatnya. Memang memimpin sebuah organisasi, komunitas dan masyarakat yang beragam itu bukan sebuah perkara yang mudah.  Apalagi pernak – pernik kehidupan yang dinamis dan problematik atas komunitas dan daerah yang dipimpinnya cukup besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه

“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

(Mungkin) sebagai rakyat , kita harus sepakat bahwa kita butuh pemimpin yang tegas dalam memimpin. namun tentu harus diingat bahwa dalam memimpin tidak perlu menunjukkan emosional berlebihan karena marah adalah salah satu dari 10 pintu setan dalam menyesatkan manusia, ketegasan tidak sama dengan marah, menegur jangan sampai dengan mempermalukan anak didepan umum. Jika marah minta perlindunganlah pada Allah.

Oleh karena itu sebagai rakyat jangan terjebak oleh penggiringan opini yang menyetujui cara-cara pemimpin yang mengumbar kemarahan dimuka umum, merasa benar sendiri, mempermalukan orang dihadapan publik dan sejenisnya. Disamping itu, sikap seorang pemimpin yang baik selalu mempertontonkan kecerdasan, ketepatan waktu, emosi yang dapat dikontrol, menghilangkan sindiran yang dapat membakar opini, mengedepankan niat mengabdi tanpa terselip kepentingan dan lain sebagainya..  Wallahu a’lam…
(Berbagai Sumber)

234 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya