Mata Budaya Suara LSM

Mengenal Tradisi Lokal Masyarakat Gorontalo

Mata Gorontalo (Budaya) – Gorontalo terletak di wislayah Republik Indonesia yang memanjang dari Timur ke Barat di Bagian Utara Pulau Sulawesi. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, Sebelah Timur berbatasn dengan Provinsi Sulawesi Utara, sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini.

Gorontalo merupakan salah satu Povinsi yang ke-33 Indonesia, dengan ibu kotanya beranama Gorontalo. Terdiri dari enam Kabupaten dan satu kotamadya, yakni Kabupaten Boalemo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Gorontalo Utara dan Kotamadya Gorontalo.

Menurut catatan sejarah, konon Gorontalo terbentuk kurang dari 400 tahun lalu, dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makasar, Pare-pare dan Manado. Dan pada saat waktu itu Gorontao masih menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, dan Bone.

Nelayan Gorontalo (1930) 

Tradisi lokal masyarakat Gorontalo berasal dari suku Gorontalo, dan mereka menggunakan bahasa Gorontalo atau yang disebut dengan Hulondalo. Bahasa Hulandalo yang merupakan bahasa masyarakat lokal Gorontalo terbagi atas tiga dialek, yatu Gorontalo, Balango, dan Suwawa atau yang disebut dengan naman Bune. Kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo sangat kental dengan nuansa adat dan agama, seperti tertanam dalam ungkapan yang sering mereka ucapkan, “Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah“.

Ciri khas Gorontalo juga dapat kita lihat pada aspek budaya, antara lain; makanan khas, rumah adat, kesenian, dan hasil kerajinan tangan seperti kain sulam kerawang maupun anyaman kopiah keranjang  atau yang sering disebut dengan nama upiya karanji yang terbuat dari rotan. Masyarakat Gorontalo juga mengenal berbagai upacara sebagai tradisi, seperti upacara tradisi membuka ladang atau yang dikenal dengan nama momuo oayuwa, upacara untuk kesuburan tanah yang dikenal dengan nama mopoahuta. dan upacara meminta hujan yang disebut dengan nama mohiledidi. Selain upacara tradisi yang tersebut di atas, masyarakat Gorontalo juga mengenal upacara daur hidup yang dikenal dengan sebutan life cycle khas. Upacara sunat atahu khitan, dan juga upacara menyambut haid pertama yang dseibut dengan nama buhutalo bagi seorang gadis di kalangan bangsawan.

Untuk tempat tinggal rumah masyarakat Gorontalo pada umunya berbentuk rumah maline atau potiwoluya, yakni rumah panggung berbentuk bujur sangkar atau persegi empat yang didirikan di atas tiang dengan ketinggian antara 1 dan 4 meter. Atapnya berbentuk empat persegi panjang; dilihat dari depan atap atau yang dikenal dengan nama watopomembentuk segitiga dan dari samping berbentuk jajarangenjang. Bahan untuk pembuatan atap rumahnya pada umumnya daun rumbia, sedangkan dinding rumah berbahan bambu yang dibelah dan dianyam. Dan setiap kamar berjendela. Rumahya terdiri atas kamar tidur, serambi, ruang dapur, dan tamu. Di atas pintu terdapat ukiran yang memiliki makna tertentu.


Rumah Adat Dulohupa (Sumber : Adat Tradisional)

Konon pada masa lalu, masyarakat Gorontalo memiliki rumah adat yang lain yang disebut Dulohupo. Rumah adat tersebut digunakan sebagai tempat bermusyawarah kerabat kerajaan. Rumah yang berbentuk panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap yang artistik dan pilar-pilar kayu sebagai hiasannya. Dan kedua tangga terletak di sisi kiri dan kanan yang merupakan gambaran tangga adat yang disebut tolitihu. Pada masa lalu rumah adat Dulohupodigunakan sebagai ruang pengadilan untuk memvonis para pengkhiat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala atau yang disebut dengan nama alur pertahanan / keamanan; alur hukum agama Islam atau yang disebut dengan nama Buwatulo; dan alur hukum adat yang disebut dengan nama Buwatulo Adati.

Mengenal tradisi lokal masayrakat Provinsi Gorontalo satu persatu dapat membuat kita mengerti akan sebuah nilai tradisi dan warnawarni keindahan budaya bangsa Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi. Di sanalah kita akan dapat menemukan sebuah informasi yang dapat menjadikan sebuah nilai akan tradisi masyarakat lokal dapat membuka sebuah peluang usaha. (Mata 1/ direktori wisata)

258 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya