Mata Boalemo

Penjualan Aset Desa Botumoito, Dinilai Tak Sesuai Prosedur

Mata Gorontalo (Kabupaten Boalemo) – Esensinya Aset Desa yang juga merupakan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) yang harus di masukan ke rekening kas desa kemudian dibuatkan perencanaan penggunaannya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Namun hal ini tidak berlaku bagi Pemerintahan Desa Botumoito Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo. Pasalnya, aset Desa Botumoito yang diketahui bersumber dari dana Bantuan Desa (Bandes) berupa pohon kelapa sebanyak 50 Buah ini di telah dijual Kepala Desa sehingga diprotes dan dipersoalkan warganya.

Kamarudin, salah satu warga Desa Botumoito kepada Mata Gorontalo mengungkapkan bahwa mekanisme penjualan aset desa tersebut, dilakukan tanpa melalui meknisme dan prosedur yang ada.

” Mekanisme penjualan aset desa ini tidak sesuai prosedur sebagaimana di atur dalam Permendagri nomor 1/2016 tentang Pengelolaan Aset Desa,”. Ungkap Kamarudin.

Warga Desa Botumoito, Kamarudin

Kamarudin juga menambahkan bahwa dalam penjualan aset desa mestinya harus di melalui musyawarah oleh Bada Permusyawaratan Desa (BPD) karena penambahan dan pelapasan aset desa di atur juga dalam Permendagri 110/2016 tentang BPD. Sehingga menurutnya ada kejanggalan yang menyebabkan keresahan dikalangan masyarakat.

“Kepala desa Botumoito telah menyebabkan keresahan bagi kelompok masyarakat, karena ini sudah sangat jelas ada yang tidak beres dan ini sudah melanggar larangan kepala desa sebagaimana di atur dalam pasal 29 UU Desa. Olehnya saya atas nama warga masyarakat Desa Botumoito meminta kepada Aparat Penegak Hukum untuk bisa menindaklanjuti hal tersebut”. Tegas Kamarudin.

Kepala Desa Botumoito Ardi Pantu dalam klarifikasinya menyatakan bahwa penjualan aset ini sudah berdasarkan musyawarah lintas lembaga yang ada di desa, dimana dirinya telah memenuhi mekanisme dan telah sesuai prosedur.

Kepala Desa Botumoito, Ardi Pantu

” Penjualan aset ini sudah dimusyawarahkan dan sudah sesuai prosedur dan hasil penjualan kami gunakan untuk membeli pohon kelapa yang ada di lokasi persiapan pembangunan lapangan desa, jadi intinya ini untuk manfaat yang lebih besar,”. Jelas Ardi

Klarifikasi Ardi ini sangat bertentangan dengan pernyataan ketua BPD Dwi Rahayu Lumula, pada pernyataannya bahwa musyawarah yang dilakukan oleh Kepala Desa Botumoito itu dilakukan setelah mendapat panggilan dari Camat Botumoito.

” Nanti sudah mendapat panggilan dari camat barulah dibuatkan musyawarah dan itu dilaksanakan pada tanggal 21/01 sedang penjualan kelapa bandes ini terjadi pada tanggal 10/01 sebanyak 50 pohon dan 14/01 sebanyak 25 pohon dengan harga Rp. 300 ribu per pohonnya, “. Jelas Dwi Rahayu.

ketua BPD Desa Botumoito, Dwi Rahayu Lumula

Zainudin Iyabu, dalam penelusuran Tim mata – mata membenarkan bahwa proses jual beli tersebut telah melalui musyawarah ditingkat Desa. Namun pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun VI Mebongo itu mengatakan bahwa kwitansi jual beli itu belum ada dengan alasan diriya masih hidup.

“penjualan ini sudah dimusyawarahkan lebih dulu ditingkat desa sedang untuk kwitansi jual-beli belum ada karena penjual masih dan saya masih hidup sebagai pembeli”. Singkatnya

Sementara itu, Bendahara Pemdes Botumoito Rokiyah ketika dimintai penjelasan tentang hasil jual beli aset milik desa itu, mengatakan bahwa dirinya berkilah tidak mengetahui masalah jual beli tersebut.

” Tidak ada dan saya tidak tau apa-apa”. Jawab Singkat Rokiyah. (mg3)

228 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya