Mata Bisnis & Usaha

Rachmat Gobel: Bangun Industri, Bukan Pabrik

Setiap ada peluang bisnis yang akan digarap, kerangka berpikir Rachmat Gobel selalu dalam bingkai seorang industriawan. Ia tidak mau hanya menjadi pedagang, tetapi membangun industri. Sukses bekerja sama dengan Panasonic selama 58 tahun adalah sebuah bukti. Namun, ia masih resah dengan kondisi industri elektronika yang justru kokoh di luar negeri, bukan di dalam negeri. 

Mata Gorontalo (Bisnis & Usaha) – Pada 16 Februari 2016, mencuat pemberitaan di media massa PT Toshiba Consumer Product Indonesia (TCPI) menghentikan produksi tiga pabrik televisi yang berlokasi di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat. Penutupan ini terkait kerugian induk semangnya Toshiba Corporation sebesar Rp82,3 triliun pada 2016. Dengan gambaran kerugian sebesar itu, tidak ada pilihan bagi Toshiba kecuali menutup pabrik di sejumlah negara termasuk Indonesia. Pabrik PT TCPI dijual ke Skyworth Group—produsen televisi asal Hong Kong—senilai Rp341 miliar.

Tidak lama kemudian, giliran PT Panasonic Lighting Indonesia yang menyatakan menutup pabrik bohlan neon (flourenscent) yang berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur dan PT Panasonic Gobel Eco Solutions Manufacturing Indonesia yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Penutupan semata karena produk bohlam ini sudah mulai kehilangan peminat dengan pilihan bergeser ke produk lampu hemat energi LED. Produksi bohlam kedua pabrik itu pun dilebur menjadi pabrik lampu LED dalam rangka efisensi usaha.

Penutupan kedua pabrik itu menyentak publik dan membersitkan suatu “kekhawatiran”, apakah ini sinyal bakal ada lagi pabrikan elektronika asal Jepang dan negara lainnya yang hengkang dari Indonesia? Pasalnya, jauh sebelum ini PT Sony Electronik Indonesia yang memproduksi audio menutup pabrik di dalam negeri dan hijrah ke Malaysia yang lebih menawarkan iklim investasi menarik pada Maret 2003. “Panasonic tidak akan hengkang dari Indonesia,” tandas Rachmat Gobel, chairman & shareholder PanasonicGobel Group Companies yang menaungi tiga sub-holding dengan 16 anak usaha.

Saat ini, ada 33 dari semula 36 perusahaan anggota Gabungan Perusahaan Industri Elektronika dan Alat-Alat Listrik Rumah Tanggal Indonesia (Gabel). Tiga perusahaan yang tidak lagi anggota Gabel yakni PT Toshiba Consumer Product Indonesia, PT Sharp Electronics Indonesia, PT Haier Electric Appliances Indonesia. Toshiba dibeli Skyworth, Sharp dibeli Foxconn asal Taiwan senilai US$6,2 miliar, dan Haier—perusahaan elektronika asal China yang beroperasi sejak 1996— hijrah ke Thailand.

Goncangan yang terjadi pada produsen elektronika asal Jepang berskala global berusia di atas separuh abad memunculkan spekulasi “The Death of Samurai” atas perusahaan-perusahaan seperti Toshiba (usia lebih dari 143 tahun), Sharp (berusia 106 tahun), Panasonic (100 tahun), Sony (72 tahun), dan Sanyo (68 tahun). Setidaknya tiga penyebab kenapa hal itu terjadi. Pertama, harmony culture error. Tradisi perusahaan Jepang lambat dalam mengambil keputusan, top level manajemen membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mencapai kata sepakat. Kedua, seniority error. Budaya senioritas kerap menghambat kecepatan gerak generasi muda yang menjadi motor inovasi. Ketiga, old nation error dengan mayoritas manajer senior di perusahaan Jepang sudah berusia lanjut dan kurang lincah merespons perubahan.

Wajah Industri Elektronika

Percikan berita penutupan pabrik tersebut menarik untuk mengetahui kondisi industri elektronika di Indonesia. Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015—2035 Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo memasukan industri elektronika dan produk telematika sebagai salah satu dari enam industri andalan nasional. Laju pertumbuhan sektor industri elektronika periode 2011—2016 rata-rata di level 7,6% atau satu tingkat di bawah food product and beverages sebesar 8,4%.

Menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato, dengan level pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,2% pada 2017, industri elektronika menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan industri manufaktur nasional. Laju pertumbuhan industri manufaktur periode 2011-2016 rata-rata 4,9% dengan kontribusi industri manufaktur terhadap GDP sebesar 20,4% per semester pertama 2017. Kontribusi sebesar itu masih di bawah kontribusi negara-negara di Asia Timur dan Pasifik yang berada di level 28,0% pada periode yang sama.

Padahal, kata ekonom Faisal Basri, merujuk pengalaman negara-negara yang telah berhasil menapaki industrialisasi, titik optimal terjadi ketika perananan sektor industri manufaktur dalam GDP mencapai 35%. Setelah itu, ketika pendapatan per kapita sudah tinggi dan produktivitas pun tinggi, sektor manufaktur akan tumbuh melambat dan perananannya dalam PDG menurun digantikan sektor jasa. Kontribusi sektor industri manufaktur pernah menyentuh level 29,1% pada 2002. “Tidak ada satu negara pun yang dapat mencapai kemajuan industri tanpa dukungan pemerintah yang tepat,” ujar pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Salah satu tahapan untuk memperbesar kontribusi industri manufaktur terhadap GDP yakni dengan memperkuat struktur industri tersebut. Struktur industri manufaktur akan kokoh apabila disokong oleh industri komponen. Mari bercermin ke Jepang. Di negeri Matahari Terbit itu ada Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) yang merancang kebijakan dan insentif guna mendorong inovasi teknologi dan daya saing industri. METI bersama pelaku industri membentuk Soga Sosha (trading house) sebagai tempat pemasaran bersama yang memiliki jaringan industri komponen yang dikembangkan terpadu sebagai supporting industry.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Kalau merujuk ke RIPIN, arah pembangunan industri elektronika periode 2015—024  difokuskan pada pembangunan komponen elektronika dan alat-alat rumah tangga (home appliances). Periode 2025—2030, diarahkan pembangunan komponen dan fabrikasi semikonduktor. Arah ini sudah benar untuk membawa industri elektronika yang kokoh. Saat ini, industri elektronika nasional seperti produk televisi dengan aplikasi teknologi canggih kandungan komponen impor sebesar mencapai 70%.

“Itu artinya, struktur industri kuat ada di luar negeri meski pasar terbesar di dalam negeri,” ujar Rachmat Gobel. Ia mencontohkan, komponen kompresor merupakan komponen vital di lemari es dan air conditioner (AC). Sudah sejak satu dasawarsa lalu, ia mengusulkan kepada pemerintah agar di formulasi iklim investasi yang mampu menarik minat produsen kompresor untuk berinvestasi di dalam negeri. Sampai saat ini, belum ada satu pabrik kompresor pun yang beroperasi di sini. Rachmat Gobel berharap pemerintah memperhatikan fakta lapangan seperti ini.

Hasil penelitian Gabel Elektronika terkait urusan pasok bahan baku dan komponen inti di industri elektronika, posisi Indonesia masih di bawah Thailand dan Malaysia. Dalam hal suplai bahan baku, ada lima item di dalamnya, antara lain baja, resin, tembaga, almunium, dan kraft. Skor kekuatan Indonesia diposisi 13, di bawah Malaysia (16) dan Thailand (20). Begitu pula dalam pasok komponen inti (kompresor, heat exchanger, komponen elektronik, motor, PCB), skor Indonesia 12, Malaysia dan Thailand membukukan skor 17 dan 23. “Hal ini menggambarkan betapa pasok komponen lokal di indusri elektronik memang masih lemah dibandingkan negara tetangga,” ujar Heru Santoso, Direktur GB Elektronika.

Dalam bisnis keseharian, pelaku industri elektronik menghadapi kenyataan “pahit” akibat perlakuan diskriminasi. Menurut Ali Subroto Oentaryo, CEO PT Panggung Electric Citrabuana, sejak ditandatanganinya Free Trade Aggrement (FTA) seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan lainnya, impor produk elektronik utuh terus menyusut. Misal, produk impor televisi utuh dari semula dikenakan bea masuk (BM) 15%, per Januari 2018 susut jadi 5%. Kenyataan seperti ini membuat impor produk elektronik harganya lebih murah. “Kita tidak bisa menghindari kesepakatan FTA tapi pemerintah bisa mengkreasi kebijakan yang memberi perlindungan terhadap produk elektronika dalam negeri,” ujar Ketua Audio Video di Gabel Elektronika.

Pada sisi lain, pelaku industri elektronika yang memproduksi produk elektronika dan membutuhkan komponen impor malah dikenakan tarif bea masuk (BM). Contoh, tarif BM untuk produk lemari es setengah jadi/terurai (semi knock down/SKD) dikenai bea masuk 5% plus PPN. Sementara itu, untuk impor komponen kulkas seperti engsel dikenakan tarif BM 20%, screw 15%, heater 15%, motor 10%, dan evaporator 5%. “Disharmonisasi tarif inilah yang bikin banyak pengusaha enggan bangun industri, tapi condong jadi pedagang,” ujar Ali Subroto Oentaryo, CEO produk elektronik merek Akari.

Data statistik ekspor-impor produk elektronika yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 memperlihatkan nilai impor sebesar US$13,0 miliar dan ekspor US$5,8 miliar atau terjadi defisit sebesar US$7,2 miliar. Angka defisit tersebut cermin begitu leluasanya produk impor utuh elektronika asal Cina dan negara lainnya masuk ke Indonesia. Memang tidak semua produk elektronik impor asal Cina yang terkenal murah mampu bersaing di dalam negeri. Produk elektronik seperti kulkas buatan dalam negeri masih merajai pasar. Pasalnya, produk impor sejenis asal Cina tidak sanggup bersaing karena ongkos kirimnya mahal.

Ali Subroto Oentaryo meminta agar pemerintah menaruh perhatian serius masalah kebijakan fiskal ini, khususnya tarif BM produk elektronik utuh impor. Pasalnya, kehadiran produk impor murah asal Cina tersebut akan menggerogoti pangsa produk elektronika made in Indonesia. Dengan skala produksi yang semakin berkurang, membuat kelayakan membangun industri komponen elektronika pun sirna. Ambil contoh air condioner (AC). Produsen komponen AC seperti kompresor (alat pendingin) di Jepang atau China mau berinvestasi di Indonesia apabila skala produksi mencapai 2 juta unit per tahun. Saat ini, skala itu tidak tercapai karena produk AC impor tidak dikenakan BM. Walhasil, pabrik AC merek Panasonic yang diproduksi PT Panasonic Manufacturing Indonesia hanya berkisar di level 600 ribu unit/tahun.

Untuk menggenjot pemakaian komponen lokal, pemerintah disarankan membuat aturan yang mewajibkan pemakaian komponen elektronika produksi dalam negeri melalui kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Bagi perusahaan elektronika yang bisa memakai komponen elektronika di level tertentu, diberi insentif pajak berupa tax allowance. Langkah ini akan memberi daya tarik bagi calon investor komponen elektronik asing ke Indonesia.

Menurut Ali Subroto, amat disayangkan bahwa dari 16 paket deregulasi kebijakan yang sudah digulirkan pemerintah, tidak satu pun yang menyentuh industri elektronika agar bergairah kembali.

Bangunlah Industri, Bukan Pabrik!

Gambaran profil industri elektronika seperti ini kerap membuat gelisah Rachmat Gobel. Pasalnya, struktur industrinya justru kokoh di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Walhasil, kegiatan produksi elektronika di dalam negeri lebih didominasi sebagai perakit atau tukang jahit saja. Sebagai tukang rakit memang ada wujud pabrik, tetapi kegiatan produksi hanyalah merangkai komponen yang diimpor menjadi produk elektronika. Misi utamanya hanya sebatas mencari laba sebesar mungkin dengan biaya produksi (SDM, komponen, dan lainnya semurah mungkin).

Menurut Faisal Basri, industri yang hanya berbasis sebagai tukang jahit atau juru rakit tidak banyak memberi manfaat. Ia mencontohkan produk Ipod (Apple) yang dirakit di Cina. Sebagai negara yang merakit, pendapatan yang diperoleh Cina hanya US$6,5 untuk satu buah Ipod. Negara pemasok komponen Ipod seperti Korea Selatan mendapat US$80 per Ipod, Taiwan US$27 per Ipod, Jerman US$16,1, dan negara pemasok lainnya US$41,3. “Dari gambaran ini, semestinya pemerintah Indonesia bisa menarik pelajaran. Janganlah jadi negara perakit, tapi produsen komponen yang masuk dalam supply chain global,” ujarnya.

Itu pula yang menjadi alasan mengapa Rachmat Gobel selalu berbicara visi membangun industri elektronika yang kokoh dengan industri komponen sebagai penopang. Bahkan, sebagai Special Envoy atau Duta Investasi Khusus Indonesia-Jepang yang ditunjuk Presiden Jokowi, ia kerap bolak-balik terbang ke Negeri Matahari Terbit guna meyakinkan prinsipal merek-mereka elektronika di sana agar mau berinvestasi di industri komponen di Indonesia. Pasalnya, hanya dengan visi membangun industri komponen akan memperkokoh struktur industri elektronika dan menangguk manfaat besar seperti yang dinyatakan Faisal Basri.

Dalam benak Rachmat Gobel, manakala berbicara mengenai pembangunan industri, tidaklah melihat semata dari sisi perolehan keuntungan saja, tetapi benefit lainnya seperti melahirkan SDM andal di bidang elekronika. Pasalnya, para pelaku industri akan melakukan pelatihan SDM, membangun budaya perusahaan, melakukan perbaikan produk secara berkelanjutan melalui Kaizen seperti di Jepang, menyisihkan anggaran untuk research and development (R&D) produk berdaya saing, hingga menjaga loyalitas pelanggan. Ini semua hanya ada ketika investor membangun industri, bukan pabrik.

“Visi industrialis ini bersumber dari mendiang ayah (Thayeb M. Gobel), saya hanya meneruskan visi itu,” ujar Rachmat Gobel. Kalau menengok ke perjalanan sejarah Panasonic-Gobel, figur mendiang Thayeb M. Gobel sebagai founder Panasonic-Gobel memang sangat visioner sebagai industriawan. Ketika PT Transistor Radio Manufacturing (PT TRM) didirikan pada tahun 1950-an, visi beliau bukan sebatas ingin memproduksi radio merek Tjawang, tetapi bagaimana bisa membangun industri yang produknya berguna bagi masyarakat. Satu dekade setelah TRM berdiri, ia bercita-cita memajukan sektor pertanian melalui mekanisasi dengan merakit traktor pertanian.

Sayang, mimpi ingin membangun sektor pertanian Indonesia yang kokoh melalui mekanisasi itu terpaksa dipendam seiring adanya permintaan Presiden Soekarno untuk menyukseskan pagelaran akbar Asian Games IV di Jakarta pada 1962 melalui siaran televisi. Thayeb M. Gobel yang sempat mendapatkan beasiswa Colombo Plan untuk belajar industri elektronika di Jepang dan akhirnya berjumpa dengan mendiang Konosuke Matsushita (pendiri Panasonic), sepakat untuk memproduksi 10.000 televisi hitam putih dalam rangka Asian Games.

Dari momentum Asian Games inilah, gerak langkah Thayeb M. Gobel membangun industri elektronika bekerja sama dengan Panasonic berlangsung. Ketika Pemerintah Orde Baru menerbitkan aturan penanaman modal asing (PMA) yang memungkinkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) antara investor asing dan perusahaan lokal pada 1970, lahirlah PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI). Komposisi penguasaan saham 60% pihak Panasonic, 40% keluarga Gobel. Kini, relasi kemitraan tersebut sudah memasuki usia 58 tahun.

Sebagai generasi kedua di kerajaan bisnis keluarga Gobel, ia mencoba menerjemahkan visi industrialis mendiang sang ayah dengan terus merawat dan mengembangkannya. Kini, di bawah perusahaan holding PT Gobel Internasional memiliki tiga anak usaha, yakni Manufacturing Companies dengan lima anak usaha,

PT Gobel Dharma Nusantara (trading & service industri) dengan enam anak usaha, PT Gobel Dharma Sarana Karya (food and hospitality industry) dengan tiga anak usaha. Saat ini, Rachmat tengah menyiapkan generasi ketiga—putranya, Arif Gobel—untuk melanjutkan estafet mengelola imperium bisnis Gobel.

Figur Rachmat Gobel dikenal luas sebagai sosok industriawan. Sebagai industriawaan, setiap ada peluang bisnis kerja sama pun tetap diletakkan dalam bingkai membangun industri. Misalnya, siapa yang menyangka Rachmat Gobel membuka gerai toko kue merek Chateraise berlisensi Jepang pada awal Desember 2017 lalu. Ketika akan membangun kerja sama, ia tidak mau hanya sebagai pemegang lisensi Chateraise di Indonesia, tetapi bagaimana membangun sebuah industri pangan yang membina para pemasok yang notabene merupakan petani. Rachmat ingin memberdayakan petani di dalam negeri dan membangun industri pertanian yang kokoh seperti visi sang ayah. Lahan seluas 250 hektare di Gorontalo dimaksudkan untuk hal ini.

Kini, tapakan ekspansi bisnis keluarga Gobel mulai merambah ke sektor pertanian dengan memanfaatkan kemajuan teknologi Jepang. Ia pun memakai prinsip Aikido, yakni memanfaatkan kekuatan kemajuan teknologi, manajemen, dan etos kerja asal Jepang bukan hanya dalam membangun dan memajuk sektor elektronika, tapi juga mulai merambah ke sektor pertanian yang kini sedang dirintisnya. “Figur Rachmat Gobel memang sosok industriawan sejati,” komentar Ali Soebroto. (***)

Penulis: Heriyanto Lingga

Editor: Ratih Rahayu

Foto & Sumber : Warta Ekonomi

 

240 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Berita Terkait Lainnya